PERTEMUAN PERTAMA DAN TERAKHIR DI KALIMATI GUNUNG SEMERU

ini adalah pengalaman pertama ku menulis sebuah cerita tentang pendakian yang benar-benar aku lewati jadi kalau sedikit berantakan mohon di maafkan ya.
dan mungkin bakal rada panjang dan lama karena kejadiannya sudah cukup lama jadi aku perlu mengingat-ingat detail kejadiannya.

pendakian itu dilakukan pada bulan juli tahun 2012 aku tidak ingat betul tanggalnya mungkin beberapa hari sebelum puasa.
jadi waktu itu aku berangkat seorang diri dari jogja sampai akhirnya nanti bergabung dengan 2 orang teman ku di Surabaya.

aku tiba di Surabaya sangat pagi mungkin sekitar jam 6 dan di jemput kedua teman ku untuk melanjutkan perjalanan ke Ranu Pani dengan sepeda motor.
tak lupa aku memastikan lagi pesanan ku yaitu perlatan makan lengkap dan logistik istimewa yaitu mie gelas.

kenapa mie gelas ? karena beberapa minggu sebelumnya aku baru saja turun dari gunung merbabu untuk membawa tamu dan mereka punya logistik pribadi,
sebuah mie gelas yang benar2 bikin aku ngiler tapi aku benar2 tidak enak kalau harus meminta makanan dari tamu.

jadi begitu lah pendakian kali ini benar2 hanya untuk menuruti keinginan ku makan mie gelas menggunakan gelas seng di gunung.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 wib ketika Kami tiba di Ranu Pani yg akan jadi titik awal memulai pendakian.
beres mendaftar kami pun langsung bergegas untuk memulai pendakian dengan target tiba di Ranu Kumbolo sebelum gelap. karena kami bertiga benar2 malas berjalan di malam hari

pendakian menuju Ranu Kumbolo pun berjalan cukup lancar, tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul 17.00 aku langsung berkeliling untuk mencari tempat beristirahat
sekaligus mendirikan tenda dan teman2 ku menyiapkan menu istimewa pesanan ku.

disinilah masalahnya bermula. ternyata teman2 ku lupa membawa garpu
dan entah apa yang merasuki ku waktu itu
bisa2nya aku marah hanya karena hal sepele seperti itu

padahal teman ku juga sudah berusaha untuk mencari pinjaman garpu ke tenda2 pendaki lain disana
tapi memang sialnya tidak ada satu pun yang membawa garpu.

dan aku pun minta untuk pindah camp ke Arcopodo atau Kalimati HANYA UNTUK MENCARI PINJAMAN GARPU.
keegoisan paling bodoh selama pendakian ku selama ini.

dan aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan teman2 ku hingga menuruti permintaan konyol ku itu
padahal hari sudah mulai gelap dan seperti yang ku jelaskan di atas kami semua benar2 malas untuk melakukan perjalanan malam hari.

dan akhrinya perjalanan malam hari itu pun kami mulai, lepas magrib selesai mengisi air dan mempersiapkan headlamp kami pun melahap tanjakan cinta.
hari sudah mulai gelap waktu itu dan keanehan pertama pun muncul,

kami bertiga benar2 yakin melihat deretan lampu senter sedang menembus oro-oro ombo padahal tak ada satupun rombongan yang menyusul kami saat itu
dan pertemuan antara jalur ayek-ayek ada di belakang kami, lalu dari mana asal rombongan pendaki itu

kami masih mencoba untuk positif thinking kalau rombongan pendaki tersebut menyusul kami waktu kami sedang packing.
dan aku pun berinisiatif untuk menyusul mereka dengan harapan perjalanan malam hari ini bisa lebih menyenangkan jika bergabung dengan kelompok besar.

untuk melewati Oro-oro Ombo kita punya 2 pilihan jalur, pertama menembus deretan Bunga Verbana seperti yang dilakukan rombongan pendaki tersebut
atau berbelok kekiri dan sedikit memutar tanpa perlu melewati deretan Bunga Verbana

kami pun memilih jalur yang kedua agar bisa menyusul rombongan tersebut dengan harapan akan bertemu di Cemoro Kandang.
tapi tiba di Cemoro Kandang ternyata kami kehilangan jejak cahaya dari rombongan itu. pos cemoro kandang benar2 sepi tidak ada orang sama sekali.

salah seorang teman ku pun mengingatkan untuk tidak usah mengejar rombongan itu karena kakinya mulai terasa sakit ketika harus berjalan cukup cepat tadi.
dan kami pun memutuskan untuk beristirahat sebentar di cemoro kandang

pengalaman horor itu pun di mulai, saat aku ingin mengambil termos dari dalam carrier aku yakin sekali melihat seorang pendaki dari arah hutan cemoro kandang
dan dia sempat menoleh kepada ku tapi ketika ku panggil dia tidak bergeming sama sekali

Lalu salah seorang teman ku pun menepuk pundak ku, sorot mata kami bertemu seolah menemukan sepakat untuk tidak membahas apa yg barusan ku lihat

Sebelum melanjutkan perjalan menuju Jambangan aku minta untuk berdoa kembali agar diberikan kelancaran dan keselamatan.
Lalu kami pun pergi meninggalkan pos Cemoro Kandang.

Kengerian perjalanan dari cemoro kandang hingga jambangan waktu itu tidak pernah bisa ku lupakan sampai hari ini.
Memasuki hutan Cemoro Kandang jam ku baru menunjukkan pukul 19:00 tp suasana hutan saat itu benar-benar sunyi dan mencekam.

Baca Juga  Jalan Panjang Rinjani via Sembalun Lintas Torean

Tidak ada obrolan atau gelak tawa seperti perjalanan siang tadi, hanya ada satu kata yang silih berganti keluar dari mulut kami “aman? dan aman!”

Setelah keluar dari hutan Cemoro Kandang sebenarnya badanku sudah mengeluarkan sinyal agar segera diberi istirahat,
kaki ku sudah benar2 pegal karena sedari pos Cemoro Kandang tadi tidak diberi istirahat sama sekali.

Namun ketika tiba di Jambangan hawa berubah drastis hingga membuat ku susah bernapas dan ingin muntah.
sampai akhirnya salah seorang teman ku menyadari nya dia pun mengambil posisi leader yg dari tadi ku pegang dan memimpin rombongan kecil ini perlahan tiba di Kalimati

Jam menunjukkan pukul 21:00 ketika kami tiba di Kalimati, kami pun bergegas mendirikan tenda dan memasak.
aku dan teman2 juga sudah mulai melupakan soal garpu dan keanehan2 yg barusan kami alami.

Kegiatan masak memasak dan makan bersama pun benar-benar memperbaiki keadaan,
joke2 receh pun mulai keluar lagi, sesi curhat colongan pun di mulai bersamaan dengan disedunya secangkir kopi.
Ya kondisi malam itu perlahan membaik hingga kami kedatangan “tamu”.

“permisi mas, saya boleh minta tolong”
mendengar suara itu aku bergegas membangunkan teman2 ku tapi tak ada satu pun dari mereka yang terjaga

aku membuka tenda, dan mendapati seorang perempuan mengenakan jaket warna biru, rambutnya sebahu sedang berdiri di depan tenda kami.
aku tidak bisa melihat raut wajahnya dengan jelas tapi sosoknya benar2 nyata.

“saya boleh minta air panas?” kalimat kedua yang ku dengar, benar2 jelas dan sangat nyata.
Aku pun mengecek air di termos ku, yg ternyata masih cukup panas karena baru aku isi ulang sebelum tidur tadi
lalu aku menuangkan air tersebut ke gelas dan ku berikan kepada “dia”

Aku pun sempat menawarkan “dia” untuk masuk ke tenda agar lebih hangat
aku bisa membangunkan teman2 ku untuk menunggu di luar namun “dia” tak menjawab sama sekali

“dia” hanya menggenggam gelas itu seperti sedang kedinginan,
dan tak lama berselang “dia” menaruh gelas yg ku berikan, mengucapkan “terimakasih” dan berlalu.

Malam itu pun berlalu begitu saja, aku melanjutkan tidur ku hingga pagi pun tiba,
aku memulai aktivitas pagi ini dengan menyedu secangkir kopi dan mulai memasak agar kami bisa segera turun sebelum siang menjelang.

aku sepakat dengan diriku untuk tidak membahas dulu soal kedatangan “dia” semalam
aku juga meyakinkan diri bahwa “dia” adalah bagian dari anggota kelompok tenda sebelah yg tidak bisa tidur karena kedinginan
dan sungkan membangunkan teman2nya.

lalu ketika sedang asik memasak betapa terkejut nya aku ketika mendapati sebuah GARPU tepat di tempat “dia” semalem duduk.

aku sempat merahasikan kehadiran garpu tersebut pada teman2.
Sampai akhirnya ketika turun aku mengeluarkan garpu tersebut di Ranu Kumbolo ketika kami istirahat makan siang,
sempat terjadi perdebatan waktu itu, teman ku meminta untuk meninggalkan garpu tersebut

sebab menurutnya kita tidak boleh membawa pulang apapun dari gunung,
tp aku bersikeras jika garpu ini di tinggal malah bakal jadi sampah dan aku masih membutuhkan nya paling tidak sampai kita tiba di Ranu Pani.

Akhirnya temanku pun mengalah dengan sebuah syarat
jika terjadi sesuatu pada rombongan ini karena garpu tersebut aku lah orang yg harus bertanggung jawab

Perjalanan turun menuju Ranu Pani benar2 lancar tanpa suatu halangan berarti,
sore hari kami sudah tiba di Ranu Pani kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya esok hari.

malam di Ranu Pani pun kami habiskan untuk membahas kejadian yang kami alami sepanjang jalan Cemoro Kandang menuju Jambangan,
Akhirnya masing masing bercerita apa yg mereka rasakan disana.

Ada yg melihat wanita sedang berjalan di belakangnya, sepanjang jalan Cemoro Kandang menuju Jambangan.
namun karena sweeper tidak merespon apa2 soal kehadiran sosok tersebut dia pun hanya bisa berjalan tanpa berani menoleh dan membahas hal tersebut

Berbeda dengan sweeper dia beberapa kali mendengar suara seperti lelaguan asing yg belum pernah dia dengar sebelumnya dan hingga kami tiba di Jambangan
dia tidak pernah menemukan sumber suara tersebut.

Ada rasa senang ketika malam itu kami memutuskan untuk menginap satu malam lagi di ranu pani
karena aku jadi punya kesempatan untuk menunggu “dia” turun

Tapi hingga pagi datang kami tidak pernah bertemu “dia” dan garpu yg ku temukan itu pun hilang setelah kami tiba di Ranu Pani.

-TAMAT-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *