Cerita Senja #3

Merbabu

Hari ini segerombolan anak bengal bernama kenangan itu beramai-ramai mendatangi ku, bersembunyi dibalik kotak hitam besar tempat aku menyimpan semua peralatan mendaki gunung ku. Menyusup perlahan untuk memenuhi semua sudut ingatan yang tersisa.

Mendaki gunung memang bukan sesuatu hal yang baru buat ku, apalagi Merbabu waktu kuliah dulu bisa ku kunjungi seminggu sekali ntah itu melakukan pendakian atau hanya sekedar numpang ngopi di salah satu basecamp karena jaraknya memang hanya beberapa jam saja dari Jogja. Karena kebiasaan itu aku punya panggilan sendiri untuk Merbabu, aku suka memanggil gunung itu dengan sebutan “kebun belakang ibu” terlalu seringnya kesana membuat jarak benar-benar hanya seperti pergi ke halaman belakangan rumah untuk memetik tanaman cabe yang di tanam ibu.

***

Semua persiapan sudah selesai sebelum tengah hari tapi jadwal kami berangkat masih tersisa beberapa jam lagi. Aku mulai cemas tapi bukan karena kondisi fisik ku setelah tidak mendaki selama dua tahun lebih, kebiasan ku bersepeda dan berjalan kaki jika jaraknya tidak lebih dari 5 km dan tidak sedang berlomba dengan waktu membuatku cukup percaya diri bahwa aku ada dalam kondisi prima.

*kriiiing kriiiiing*

“Mas mau naik gunung? Tumben, bawa tamu ya?” terdengar suara ibu diujung telephone yang sejenak membuatku melupakan semua cemas tadi, mungkin dia baru selesai dengan semua urusan rumahnya dan baru saja membaca pesan singkat ku tadi pagi.

“Ndak bu, ini diajak Arul sama Siti, main aja”

“Oh iya mas hati-hati ya, kabari ibu kalau sudah turun”

“iya bu, Mas pamit ya. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

***

Perjalanan menuju Selo hanya memakan waktu 2-3 jam saja dari jogja jadi kami bertiga memutuskan untuk berangkat setelah rampung sholat ashar jadi jika di tambah kebiasaan mampir ngopi kami paling lama sebelum isya kami sudah sampai di basecamp. Memasuki kota Muntilan Siti yang berboncengan dengan ku karena kondisi motor Arul yang tidak mungkin kuat melewati tanjankan jika harus membonceng siti beserta satu tas carrier seukuran anak TK milik Arul mencoba membuka pembicaraan.

“Masih inget jalannya kan ?”

“Pas sebelum Wihara belok kanan!” jawabku kesal dan Siti tertawa keras sekali karena pertanyaan simalakama itu sukses membuat ku kesal

Setelah berbelok ke kanan jalanan mulai sempit, kendaraan tidak seramai sebelumnya, semakin banyak jalan menanjak dan di kiri kanan jalan bukan lagi deretan ruko melainkan sawah dan kebun sayur yang berlomba siapa yang lebih hijau.

Baca Juga  Cerita Senja #2

“Di depan ada pasar, disitu ada yang jual bubur kacang hijau enak, kita mampir!” suara Arul yang terdengar samar-samar karena berbarengan dengan suara motor yang meraung-raung karena melewati tanjakan.

Selesai menyantap bubur kacang hijau yang memang enak atau termakan bumbu cerita Arul kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp Merbabu melewati jalan menikung menanjak yang sukses membuat pantat panas, dan tibalah kami di “tanjakan terakhir” sesuai nama yang kami berikan tanjakan itu adalah tanjankan terakhir sebelum sampai basecamp, tanjakan yang berada tepat setelah tikungan membuat tingkat kesulitan ada di level hard.

Tiba di basecamp sesuai rencana sebelum isya, aku dan Siti langsung menemui Pak Parman yang sudah ku anggap paman ku sendiri yang sudah lama sekali tidak ku tengok dan Arul mengurus perizinan untuk kami mendaki esok hari. Dan kami bertiga menutup hari ini dengan obrolan panjang dengan Pak Parman tentang berdirinya kantor baru Taman Nasional di sana.

***

Pendakian dimulai pagi sekali,bahkan belum genap jam 7 kami sudah selesai sarapan, pemanasan dan mengepak kembali peralatan tidur kami semalam. Karena ini hari selasa pasti jalur pendakian tidak akan terlalu ramai apalagi jika berangkat sepagi ini kami akan mendapatkan sisa embun di hutan dengan kabut tipisnya, ntah semua kecemasan yang ku bawa dari Jogja hilang begitu saja ketika sampai disini, tak ada takut bertemu sisa bayangan Suma, tak ada rindu candaan ku dengan Suma yang ada hanya bagaimana menyenangkannya berjalan di depan Arul karena dia tidak akan pernah mendahului mu, mendapat asupan camilan dan buah-buahan sepanjang jalan dari Siti yang sangat pandai memanjakan perut-perut liar kami. Setelah semua siap, tali sepatu sudah terikat dengan baik, carrier sudah berada di posisi pundak yang paling nyaman, Arul memintaku untuk memimpin doa.

“Marilah rekan-rekan sebelum memulai perjalanan agar diberi kelancaran, keselamatan, dan kesehatan selama pendakian ini kita berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.”

“Berdoa dipersilahkan!”

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

“Berdoa Tidak Pernah Selesai” Tutup ku dan kami berangkat memasuki Hutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *