Cerita Senja #2

Pergi

“udah tahu kalau luka susah sembuh, pakek main pisau”

Aroma kopi di Stasiun selalu punya ceritanya sendiri kadang dia beraroma perpisahan penuh duka, kadang dia serupa kelegaan atas semua rindu yang terbalas tuntas, dan kadang dia juga beraroma penuh semangat petualangan.

“sekarang biar mampus kau Kino di koyak-koyak sepi”

Karena sesungguhnya jarak tidak melulu soal berapa jauh atau seberapa lama waktu yang perlu di tempuh. Jarak itu kadang berupa ketidakmampuan diri untuk melampaui apa yang sudah terbentang. Sesungguhnya seberapapun jauh dan berat jarak jika kau punya sesuatu yang kuat untuk melampauinya semua akan baik-baik saja.

“tapi kamu lemah, percayalah kau tidak pernah bisa baik-baik saja setelah ini”

***

“Kino, gimana-gimana, istri orang seenak itu kan?” Sapa Arul kawan sekaligus rekan kerja, mendaki, ngopi dan banyak lagi.

Dari sekian banyak cafe atau kedai kopi yang menawarkan berbagai macam biji-biji kopi terbaik di seluruh penjuru indonesia aku selalu lebih memilih ke warung kopi ini karena disini aku tidak perlu repot mencampur kopi dengan gulanya, atau tidak perlu di pusingkan dengan bermacam-macam biji kopinya, aku hanya perlu memilih kopi cangkir yang sudah manis atau pahit, kopi tanggung dengan gelas yang persis digunakan ibu dirumah, atau kotangsu kopi tanggung yang ditambah susu yang selalu jadi pilihan ku.

heh ngawur tenan kowe dab

Tapi pertanyaan itu sebenarnya benar-benar menghantuiku. kenapa aku tidak pernah mencoba rasa itu, atau aku terlalu takut rasa itu sudah tidak seperti yang dulu.

“itu caraku buat berdamai dengan masa lalu, kamu bisa bergelantungan di atas tebing Nglanggeran atau karang di Pantai Siung hanya dengan 2 atau 3 jari juga karena rasa sakit yang terus dibiasakan, bukan ?” lanjutku sambil membenarkan duduk karena aku tahu ini tidak akan cepat dan mudah. mereka ini orang-orang yang menyelamatkan ku dari hutan keterpurukan yang berbulan-bulan menyesatkan ku, dan sekarang aku mulai mencoba masuk kembali ke hutan itu. Hutan yang lebih kelam lagi, hutan yang jauh lebih berbahaya dari hutan yang dulu pernah menyesatkan ku.

“Tapi kami selalu memanjat bersama seorang penambat, Kino” Sergah Siti sembari menatapku tajam.

Benar yang dikatakan Siti, Siti yang selalu jadi satu-satunya wanita dikelompok pertemanan ini selalu bisa memberikan sudut pandang lain. Semua pemanjat pergi dengan meninggalkan percaya kepada seorang penambat yang selalu mengawasi semua pergerakan si pemanjat dan terus terhubung melalui tali yang melintasi di kait delapan. Si penambat akan mengulur tali ketika si pemanjat akan menambah ketinggian dan akan menarik tali hingga tegang ketika si pemanjat ada dalam kondisi yang rentan bahaya.

Aku berseru lantang di dalam hati, aku telah memanjat terlalu tinggi tanpa menggunakan pengaman apapun. Matilah aku!

***

“Setelah ini tinggal skripsi ya, sum. lalu kita akan semakin dekat dengan mimpi kita itu”

Aku bahkan masih sangat bisa merasakan aroma itu, aroma kelegaan yang ada di stasiun lempuyangan ketika menjemputmu pulang KKN.

Di tengah riuh, cemas dan beribu ketergesaan di stasiun, aku tenang menunggu kereta mu tiba. Bersandar di deretan kursi yang sama didepan loket informasi tempat kita selalu menunggu jika aku atau kamu pergi meninggalkan Jogja, tempat ini selalu jadi penantian kita untuk melepas rindu dan menjadikannya lega.

Baca Juga  Cerita Senja #3

Tak pernah sulit memang menemukan mu di tengah kerumunan orang-orang itu, kerudung, jaket dan cover bag yang itu-itu saja selalu membuatku mudah untuk menemukan mu dan siap merayakan kebersamaan kita lagi.

Tapi siang itu aku menemukan sesuatu yang berbeda di raut wajahmu, dan aku selalu tau raut wajah itu, raut wajah mu yang sedang tidak baik-baik saja.

“Kino, maafkan aku . . . . . “

Ah aku sudah tahu betul kemana ujung dari perbincangan ini, sisanya setelah berjam-jam penuh isak tangis dan ntah berapa banyak maaf. Aku hanya bisa ingat bahwa Sumi dilamar seniornya yang membantu dia dulu untuk bisa KKN diperusahaan pupuk itu.

***

“Hah mungkin kalau dulu Sumi tidak meninggalkan pondasi yang separuh jadi ini, sekarang aku dan Sumi sudah punya anak ya, Ti” ucapku lesu karena bayangan soal Sumi yang dulu kembali lagi.

“Hei, bukankah beberapa minggu lalu kamu sudah jauh lebih hebat daripada ini Kino?”

Siti benar sebulan penuh aku berusaha menyembuhkan diri dari luka lama dan hari ini sekali lagi aku buka luka lama itu yang belum sempat sembuh sedikitpun. Dan aku melakukan itu terus menerus selama 2 tahun ini.

Ntah sudah berapa banyak tamu ku yang kecewa dan akhirnya pergi karena aku tidak menerima permintaan mereka untuk naik gunung, aku terlalu takut bertemu kenangan bersama Sumi di hutan kami. Dan aku selalu mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa city tour jauh lebih menjanjikan dan tidak terlalu banyak resiko, nyatanya aku hanya sepenakut itu.

“Tapi ti . . . .”

Belum sempat aku selesaikan kalimat keluhan ku, Siti dan yang lain seperti sudah sepakat pada sebuah rencana. Siti memintaku untuk mengumpulkan kembali alat-alat mendaki ku dulu dan dia memintaku untuk menyiapkan menu makan untuk pendakian 2 hari 1 malam.

“Aku dan Arul rindu nasi liwet dan sambal goreng kentang buatanmu, jangan buat kami kecewa” Tegas Siti.

Kali ini lebih parah lagi bahkan satu kata pun belum keluar dari mulut ku tapi Arul dengan sigap sudah menjawab bahwa jadwal tamu kita di hari senin sampai rabu sudah dia alihkan dan Pakde tidak masalah dan aku tidak punya alasan apapun untuk menghindar dari pendakian ini.

“Jadi kita bertiga bisa pergi senin sore setelah kamu selesai menyiapkan semua yang diperlukan.” Lanjut Arul.

***

” Pergi adalah sebuah keharusan dan pulang adalah bagaimana merayakan sebuah perjalanan.”

“Kino . . . ” terdengar samar suara Pakde sapaan bos kami di travel agen memecah sayup lagu Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti dari Banda Neira yang sedang ku putar.

“Kemaren kemana ? akhirnya kamu ambil liburan juga, seneng aku.” Lanjutnya.

“Aku baru turun dari Merbabu, Pakde. Nengok Sabana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *