Cerita Senja #1

Kino

Sore yang sesak dan penuh dengan ketergesaan membuat ku makin muak saja, Aku Kino pemuda yang sedang berusaha menghidupi diri dengan bekerja di rumah kontrakan yang di sulap jadi sebuah kantor yang menjual berbagai macam jenis liburan.

“Jogja sekarang jadi rame banget gini, Sum” kata ku pada Sumi temanku dari Ibu Kota yang baru saja ku jemput dari stasiun Lempuyangan sore ini. Jogja yang ku kenal adalah jogja dimana aku bisa bersepeda tanpa mendapatkan klakson menyebalkan dari pengendara sepeda motor atau mobil di Jalan Kaliurang.

“Sudahlah Kin kita tidak sedang terburu-buru juga” sahut Sumi.

Jogja dimata Sumi yang anak ibu kota memang selalu seperti itu, Jogja yang selalu senyaman itu, sesantai itu dan aku tidak pernah sepakat dengannya dan kami bisa berdebat semalaman hanya untuk mencari siapa yang lebih tahu soal jogja. Sumi memang pernah tinggal di jogja ketika jadi mahasiswi dulu tapi ketika kuliahnya selesai Sumi langsung kembali ke ibu kota. Dan sore ini Sumi kembali menengok Jogja-nya, Jogja Sumi yang tak pernah berubah sejengkal pun. Seperti yang sudah-sudah karena selain Sumi masih orang yang sama saat kuliah dulu dan ini juga bukan pertama kalinya Sumi ke jogja, Sumi bisa sebulan sekali datang ke jogja hanya untuk datang ke burjo di dekat kampus kita dulu, mengacak-acak rak buku dan tempat tidur ku lalu memaksa ku untuk menumpang tidur di kos seberang. Aku langsung saja mengarahkan sepeda motorku ke sebuah burjo langganan kami, atau langganan Sumi lebih tepatnya karena dia selalu menjebak ku untuk mengikutinya kesana, ntah apa bedanya nasi telur dan es coffemix di burjo ini hingga dari kuliah sampai sekarang Sumi selalu saja datang dengan memesan menu yang sama dan duduk di tempat yang sama.

“Kin, kamu tahu apa yang membuatku terus kembali ?” tanya sumi padaku.

“Karena nyamannya Jogja?” jawabku, “atau jenuhnya Ibu Kota?”

“Bukan, Kin. Aku yang kembali ke Jogja adalah aku yang percaya, sedang aku yang di Ibu Kota adalah aku yang sedang terjebak dengan ketidakpercayaan”

“Lalu bagaimana kamu tahu jika kamu yang sedang di Ibu Kota adalah kamu yang sedang terjebak ? Apa kamu pernah berbicara dengannya ?”

“Tidak, Aku yang percaya tidak pernah bertemu dengan aku yang di Ibu Kota, aku yang di Ibu Kota lahir ketika kita berpisah dan aku yang percaya tidak pernah sudi menemuinya”

“aku tidak mengerti, Sum . . . . “

“sudahlah. Bukan itu intinya”

“Terus apa dong?” kini aku benar-benar penasaran dengan apa yang ingin Sumi sampaikan.

“baiklah. akan Kukatakan padamu intinya, jadi intinya adalah aku percaya karena mencintaimu, Kin”

“HAHAHAHA kau tidak pernah berubah ya, Sum. berapa kali kamu sudah mengatakan ini ? Jangan buat aku jadi bosan Sum”

“aku yakin kamu tidak akan pernah bosan, meski kalimatnya sama tapi caraku menyampaikannya selalu saja membuat mu tertawa”

“baiklah, tapi kamu tahu keadaan kita kan ?”

“aku mencintai mu, kau tahu, Kin. Dan aku begitu karena aku selalu percaya padamu. Meski aku adalah seorang istri sekarang, tapi aku tidak pernah bisa berhenti mencintai mu Kin. Kau tetap Kino yang ku kenal dulu setelah kepergian ku yang benar-benar menghancurkan mu, kau tetap Kino. Nama itu tetap ku panggil saat aku lelah, nama itu selalu menguatkan ketika aku lemah.”

“Sepertinya kegilaan itu kembali lagi, Sum.”

“Itu semua karena kau, Kin”

“Baiklah, aku tidak ingin berdebat. Sekarang sudah malam. Pulang, yuk!? ”

“Apa kau akan kembali meninggalkan ku setelah aku tidur?”

“Ya. Aku juga akan tidur kalau kau sudah tidur. dan Aku juga akan bangun sebelum kau bangun.”

“Apa kamu tidak lelah setiap kali aku kembali, Kin?”

“Tentu tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku percaya sebagaimana kau percaya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *